Dialog dengan Liberalis di twitter

Beberapa waktu lalu, ada diskusi menarik di akun twitter saya. Saat itu bertepatan satu hari setalah aksi #IndonesiaTanpaJIL yg ada diadakan di bunderab HI, Jakarta. Saat aksi tersebut, terjadi hujan. Akun seoarang gembong JIL, guntur romli diakun twitternya mengatakan, bahwa aksi yang dilakukan saat hujan, merupakan bentuk 'ketidak berkahan' menurut pikiran sempit mereka (JIL.red). Salah seorang yang juga (dugaan kuat saya) adalah pendukung liberalisme, mengiyakan pernyataan guntur romli tersebut. Kemudian dia, me-reply saya, bahawa dia tidak setuju hujan itu adalah berkah. Dia menganggap, bahwa hujan juga bisa menyebabkan banjir. Dia berkata pada saya, bahwa saya disruh menggunakan 'logika' tentang hujan. Saya pun menjawab, bahwa banjir itu bukan karena hujan. Banjir, justru terjadi karena ulah manusia (saat itu saya belum terpikir tentang dalil ayat Al Qur'annya)
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum [30]: 41).
.Namun, alhamdulillah saya dapat refernsi surat: Al Anfal: 11,
11. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu) [Al Anfal: 11]
Saya suruh membaca surat tersebut, namun dia tidak membalas reply twitt saya. Seperti ungkapan, tidak ada asap kalau tidak ada api. Pada intinya hujan adalah berkah, dengan hujan (atas ijin Alloh SWT) menumbuhkan berbagai tumbuhan, mahluk hidup. Sedangkan banjir, longsor, tentu saja karena manusia, yang telah diamanahi untuk menjadi khalifah dibumi ini, menjaga alam, untuk dirinya.

Comments

  1. Semuanya itu gk bisa dipikirkan menggunakan logika.Kita juga harus menggunakan hati nurani kita untuk berpikir

    ReplyDelete

Post a Comment